Mutually Beneficial Collective Action (MBCA) Pada Pembangunan Masjid Di Madura

Pembangunan masjid dalam masyarakat Muslim sering dipahami sebatas pembangunan fisik tempat ibadah. Namun di balik proses tersebut, sesungguhnya berlangsung dinamika sosial yang kompleks: solidaritas komunitas, gotong royong, patronase religius, mobilisasi sumber daya, negosiasi sosial, hingga pembentukan identitas kolektif masyarakat. Buku ini menghadirkan perspektif baru dengan memandang pembangunan masjid sebagai arena collective action berbasis budaya lokal dan religiusitas masyarakat.

Melalui formulasi konsep Mutually Beneficial Collective Action (MBCA), buku ini menjelaskan bagaimana tindakan kolektif masyarakat dapat bertahan dan berkembang karena adanya hubungan saling menguntungkan, trust sosial, solidaritas komunitas, legitimasi religius, dan partisipasi berbasis nilai budaya. MBCA dikembangkan sebagai model pembangunan komunitas yang menempatkan masyarakat bukan sekadar objek pembangunan, tetapi sebagai aktor utama yang membangun, mengelola, dan menjaga keberlanjutan pembangunan sosial secara kolektif.

Berbasis pada konteks masyarakat Madura, buku ini mengeksplorasi berbagai dimensi sosial-budaya yang memperkuat pembangunan masjid, seperti budaya gotong royong, nilai kehormatan sosial, loyalitas komunitas, patronase kiai, ritual sosial-keagamaan, ekonomi solidaritas, serta modal sosial lokal. Di sisi lain, buku ini juga mengkaji tantangan modernisasi, urbanisasi, individualisme, digitalisasi komunitas religius, hingga transformasi generasi muda yang memengaruhi keberlanjutan solidaritas sosial masyarakat.

Secara teoritis, buku ini mengintegrasikan perspektif multidisipliner dari teori collective action, modal sosial, sociology of religion, governance, antropologi budaya, digital sociology, community resilience, dan pembangunan partisipatif. Pemikiran Mancur Olson, Elinor Ostrom, Robert Putnam, Pierre Bourdieu, Émile Durkheim, Victor Turner, Jürgen Habermas, dan berbagai pemikir kontemporer lainnya digunakan untuk membangun sintesis konseptual MBCA sebagai model pembangunan komunitas religius berbasis lokalitas.

Selain membahas dinamika sosial tradisional, buku ini juga menyoroti transformasi pembangunan komunitas di era digital melalui media sosial, crowdfunding, filantropi digital, dan platform komunitas virtual. Dengan demikian, buku ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Muslim lokal beradaptasi terhadap perubahan sosial modern tanpa sepenuhnya kehilangan fondasi solidaritas dan religiusitasnya.

Buku ini tidak hanya menawarkan kontribusi akademik bagi kajian ilmu sosial, studi Islam lokal, dan pembangunan komunitas, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi pengelolaan masjid, penguatan organisasi komunitas, pembangunan partisipatif, dan kebijakan sosial berbasis masyarakat. Dengan pendekatan yang kritis, reflektif, dan argumentatif, buku ini menjadi rujukan penting bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi pembangunan, pengelola masjid, organisasi keagamaan, dan pembuat kebijakan yang tertarik pada pembangunan komunitas Muslim berbasis budaya lokal dan tindakan kolektif.

Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa masjid bukan hanya pusat ibadah, melainkan juga pusat transformasi sosial, pendidikan komunitas, penguatan ekonomi lokal, dan pembangunan solidaritas masyarakat. Dalam konteks tersebut, MBCA ditawarkan sebagai model alternatif pembangunan berkelanjutan yang berakar pada budaya, religiusitas, dan kekuatan sosial masyarakat lokal Indonesia.

Penulis:  Dr. Eni Sri Rahayunngsih, S.E., M.E.

Editor:  Dr. Ria Kasanova, M.Pd.

Halaman buku: 321

DOWNLOAD

PRE-ORDER | Rp 94.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *