Pela Gandong: Menuai Pendidikan Karakter di Sekolah Maluku
Kekayaan budaya daerah Maluku diaktualisasikan dalam bentuk Kearifan lokal (local wisdom) Pela Gandong yang memiliki nilai-nilai moral, pengetahuan dan sebagai sumber ilmu kontekstual. Nilai tersebut lahir dari masyarakat dalam banyak ragam seperti aturan adat yang menjadi aturan tidak tertulis yang sampai saat ini dipatuhi Bersama. Kearifan lokal masyarakat Maluku ini berupa ikatan persaudaraan adat antar-desa (negeri) yang melintasi batas agama dan wilayah, didasarkan pada sejarah leluhur yang sama. Tradisi ini mengikat dua komunitas atau lebih untuk saling membantu, menjaga perdamaian, serta melarang pernikahan antar-saudara Gandong, yang terbukti menjadi mekanisme resolusi konflik yang kuat.
Keragaman kearifan lokal wilayah mampu menuai berbagai maksa dalam perspektif akademik, dimana berbagai disiplin ilmu telah mencoba mendefinisikan kearifan lokal dengan penekanan yang berbeda. Pela Gandong diakui sebagai warisan kearifan lokal yang sarat nilai pendidikan karakter. Hal ini penting untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan formal agar nilai-nilai seperti kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan dapat diinternalisasi oleh generasi muda. Akademisi melihat Pela Gandong sebagai mekanisme solidaritas yang memperkuat kohesi sosial. Ia berfungsi mengikat masyarakat untuk saling membantu, melindungi, dan menjaga perdamaian, melampaui batas-batas etnis dan agama. Pela dan Gandong dibedakan secara akademis, di mana Pela sering dimaknai sebagai ikatan perjanjian/persaudaraan, sementara Gandong lebih ditekankan pada hubungan silsilah darah (genealogis) yang sama.
Pela Gandong bertransformasi dari tradisi leluhur menjadi alat resolusi konflik dan pendidikan perdamaian yang efektif di wilayah Maluku, menciptakan fenomena sosiologis budaya. Ini merupakan bentuk nyata manajemen konflik berbasis masyarakat. Dalam perspektif agama dan teologi, Pela Gandong dipandang sebagai falsafah yang menjunjung tinggi toleransi umat beragama, menciptakan ruang perjumpaan antariman yang harmonis. Secara ringkas, studi akademik memaknai Pela Gandong sebagai kearifan lokal yang hidup (living wisdom) yang terus bertransformasi untuk menjaga keharmonisan, persatuan, dan penyelesaian masalah sosial di Maluku.
Penulis : Rachel Metiary, S.Pd., Gr. | Dr. Hasriyanti, S.Si., M.Pd. | Prof. Dr. H. Erman Syarif, S.Pd., M.Pd.
Editor: Dr. Hasriyanti, S.Si., M.Pd.
Halaman buku: 123
DOWNLOAD
PRE-ORDER | Rp 54.000